Forum Mahasiswa Cilegon Gelar Aksi: Tuntut Pemkot Selesaikan Janji Kampanye dan Permasalahan Daerah

21

Forum Mahasiswa Cilegon (FMC) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon pada Senin (24/2). Dalam aksi ini, mereka menyampaikan berbagai tuntutan kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon, Robinsar dan Fajar Hadi Prabowo, terkait janji kampanye serta permasalahan daerah yang belum terselesaikan.

Mahasiswa yang tergabung dalam FMC berasal dari berbagai organisasi, di antaranya Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), serta Gerakan Mahasiswa (GEMA) Al-Khairiyah. Mengusung tema “Pemimpin Baru, Musibah atau Berkah”, mereka menyoroti isu-isu penting, seperti pembayaran honor guru dan pihak ketiga yang belum terselesaikan, komitmen anti-Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), keterlibatan mahasiswa dalam pemerintahan, keterbukaan informasi publik, serta realisasi janji kampanye.

Koordinator lapangan aksi, Ibnu Adha atau yang akrab disapa Nuskay, menegaskan bahwa salah satu tuntutan utama adalah penyelesaian utang pembayaran kepada guru, kontraktor, dan pihak lain yang belum menerima haknya dari Pemkot Cilegon. Selain itu, mereka mendesak pemerintah untuk berkomitmen tidak melakukan politisasi dan monopoli kebijakan atas nama rakyat yang berpotensi merugikan masyarakat.

FMC juga menuntut keterlibatan mahasiswa serta elemen masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepentingan publik. Mereka meminta Pemkot Cilegon untuk tidak terlibat dalam praktik KKN, menepati janji kampanye Pilkada 2024, serta mengoptimalkan dan mengawasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, mereka menyoroti masalah pengangguran serta menuntut keterbukaan informasi publik.

Setelah berunjuk rasa selama kurang lebih satu jam, massa aksi ditemui oleh Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, yang memberikan tanggapan terhadap tuntutan mereka. Namun, Fajar menolak menandatangani Pakta Integritas yang disiapkan oleh FMC dengan alasan tidak ingin mengambil keputusan tanpa kehadiran Wali Kota Robinsar yang saat itu sedang menjalani retret.

Massa aksi kemudian melanjutkan orasi dan bernegosiasi dengan Fajar untuk menjadwalkan ulang pertemuan antara mahasiswa dan Wali Kota Cilegon guna membahas tuntutan yang diajukan. (Red/*)