BIDIK, CILEGON – Mundurnya Luthfi Najad sebagai Bendahara DPD KNPI Cilegon yang dipimpin Rizki Khairul Ichwan, menyisakan tanda-tanda keretakan dalam tubuh organisasi para aktivis muda Kota Baja itu.
Apa sebenarnya yang melatarbelakangi pecah kongsinya, struktur DPD KNPI Cilegon di bawah kepemimpinan putra dari Wakil Walikota Cilegon Ratu Ati Marliati ini.
Luthfi Najad mantan bendahara KNPI, pada Rabu (16/10/2019) mengatakan, bahwa mundurnya ia dari pengurus DPD KNPI Kota Cilegon, yang jadi alasan pokok pertama adalah ketidaknyamanan menjadi pengurus, selain juga ingin fokus usaha yang sudah dilakoninya.
“Terus terang saya kurang nyaman menjadi pengurus KNPI di bawah pimpinan Kang Kiki (Rizki Khairul Ichwan) makanya saya berhenti menjadi bendahara, selain faktor itu berhentinya saya jadi bendahara kerena ingin lebih fokus usaha,” kata Luthfi kepada wartawan.
Dia juga menilai DPD KNPI Kota Cilegon di bawah kepemimpinan Rizki terlalu mengandalkan dana (hibah) dan program pemerintah. Dalam hal pengelolaan kegiatan yang dilakukan KNPI, Luthfi menilai, banyak keluar dari konsep kepemudaan dan terkesan hanya menghabiskan anggaran.
Kegiatan KNPI yang dijalankan, menurut Luthfi, banyak yang tidak ada relevansinya untuk pembinaan pemuda, seremonial dan hanya memanfaatkan momentum saja.
“Saya menilai selama ini kegiatan yang dilakukan oleh KNPI pimpinan Rizki keluar dari konsep. Indikasi itu terlihat dari penggunaan anggaran hibah di 2018 dalam pelaksanaan kegiatannya tidak sesuai RAB yang diajukan ke Dispora Cilegon, seperti dalam acara itu dikemas dengan acara ‘Milenial Hero Day’ yang menghadirkan dua group band artis ternama,” jelas Luthfi.
Selain itu, pria asal Kecamatan Ciwandan ini, saat menjadi bendahara bahkan mengaku khawatir akan pertanggungjawaban, karena KNPI menggunakan dana APBD.
“Ya pertanggungjawaban terhadap publik, dan juga di mata Allah,” imbuhnya. (Rls)