
Hal ini dibuktikan ketika di bulan Rojab, hampir semua desa di lereng gunung-gunung tersebut menggelar ritual demi kelestarian sebuah tradisi.

“Tradisi tersebut merupakan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang dengan maksud dan tujuan mendoakan leluhur atau pepunden yang diyakini telah mampu membawa perubahan di daerah tersebut dan juga sebuah penghormatan kepada leluhur,” kata Agus di Temanggung, Jumat (07/04).
Agus mengungkapkan, leluhur atau pepunden, menurut keterangan cerita adalah seoarang ulama yang telah membawa bibit tembakau ke daerah lereng pegunungan. Beliau adalah Ki Ageng Makukuhan.
“Ki Ageng Makukuhan diyakini oleh masyarakat setempat merupakan seorang Wali Allah yang bertugas menyebarkan ilmu keagamaan di daerah pegunungan dan juga seorang ahli pertanian,” terang dia.
Menurut cerita yang berkembang, bahwa tembakau diambil dari kata “tambaku” (obatku), maksudnya, obat kelaparan atau obat keterpurukan masyarakat pada jaman dahulu sehingga dengan tanaman tersebut masyarakat bisa bertahan hidup.
Adat tradisi “Rejepan” dilakukan rutin di setiap desa-desa pada bulan Rojab antara tanggal 10 sampai 15 kemudian pada siang hari dilanjutkan “Njereng Gamelan” atau pentas kesenian adat ritual sebagai bentuk perawatan keanekaragaman budaya, adat istiadat, dan tradisi.
“Adalah tugas dan tanggung jawab bersama untuk menjaga dan merawat ragam budaya, adat istiadat, dan tradisi,” pungkas dia.
#RILIS