Cilegon, – Apa yang yang diperbuat pemimpin Kota Cilegon selama satu tahun terakhir? Tidak ada kemajuan berarti. Setidaknya begitulah pandangan Ketua Nahdlatul Ulama Kota Cilegon, Rabu (25/12/2013). Program pro rakyat pemerintah Kota Cilegon yang diusung dianggap tidak tercapai.
“Program pro rakyat itu gagal, tidak ada bagus-bagusnya. Semua SKPD yang mendapat kucuran dana besar tidak optimal, program mereka tidak jalan dan masalah tetap saja ada,” kata Ketua NU Cilegon KH Hifdullah.

Yang disorot, antara lain adalah Dinas Tata Kota, Dinas Kebersihan, Dinas Pendidikan. NU juga menuding perizinan yang tak beraturan banyak dikeluarkan tidak sesuai Perda. “Terdapat izin yang kadaluarsa, juga banyak Perda yang tidak dipatuhi, seperti menjamurnya tempat hiburan malam, itu kan tidak ada aturannya tempat hiburan malam di Kota Santri” tambahnya.
Mencermati sorotan Ketua NU itu, umumnya yang tidak ditata oleh Walikota adalah hal-hal yang bersentuhan langsung dengan masyarakat banyak. Sampah masih menumpuk dan berserakan di berbagai tempat. Para ketua RT, Lurah dan warga tidak distimulasi untuk membuat program kebersihan. Program-program kebersihan lebih banyak berbasis proyek.
“Soal Krakatau Posco atau HPL Kubang Sari jangan ditanya lagi, itu proyek pemerintah, masyarakat nonton saja, biasanya kan juga seperti itu,” katanya.
Soal tempat hiburan malam, NU merasa pemerintah lebih berpihak kepada Pengusaha hiburan daripada Satgas NU Amar maruf nahi munkar,” tempat hiburan malam itu tidak ada izinya di Kota Cilegon, tetapi kenapa izinnya bisa dikeluarkan, yang mengeluarkan juga pihak kelurahan, dimana posisi walikota, yang harus menerapkan Perda, dimana Satpol PP yang bertugas melaksanakan Perda ?. Lebih baik kembalikan Cilegon sebagai Kota santri itu aja,” imbuhnya.

Tokoh Masyarakat : Kembalikan Budaya Cilegon Menjadi Kota Agamis, Sesuai Dengan Panggilanya yaitu Kota Santri Dan Kota Seribu Masjid
Kemudian juga Dinas Tata Kota dan Dinas Pariwisata & Kebudayaan, yang dituding melakukan maladministrasi,” dinas tata kota dan tim penataan itu, sudah melakukan maladministrasi, dinas tata kota yang punya kewengan untuk membongkar malah mensegel, segel itu kan kewenangan dinas Pariwisata, dan akhirnya segelnya di cabut, dan warung remang-remang kembali menjamur, Satpol-PP juga bisanya Cuma menuruti perintah atasan, itukan cuma masalah teknis, kalo memang sudah melanggar Perda, kemudian juga sudah ada SK walikota, jika tempat hiburan malam, yang menyediakan miras, DJ, kamar-kamar bersekat, asusila, dan sebagainya, ya harus di tutup, kan di Perda dan SKnya sudah ada aturanya,” ungkap Sehu Penasehat LPLH Badar Jalali.
Di bidang kesehatan lebih parah lagi. “Dokter-dokter masih sering bolos, perawat tidak terdidik melayani pasien senyum -saja susah,” ujarnya.
Ditambahkan Sehu, di Kota Cilegon tidak ada perbaikan drainase yang aktif, tidak ada nya pengembangan jalan sebagai alternatif, dan pemerintah tidak efektif menyambut kebudayaan yang ada di Cilegon, “seperti tahun baru Islam, menangani budaya Kota Cilegon sebagai kota santri. Itu pemerintah Kota Cilegon tidak melakukanya, di bidang ekonomi kerakyatan, usaha pemkot tidak terlihat dan tidak tampak, seperti apa ekonomi kerakyatan masyarakat Cilegon, dahulu kita punya hasil bumi, sekarang tidak ada, kemudian masalah lingkungan pemkot Cilegon tidak punya waduk sebagai sumber air bersih yang di kelola oleh Pemkot Cilegon sendiri, tetapi dikuasai oleh swasta meskipun itu BUMN.” Ungkap Sehu
Intinya Pemkot Cilegon tidak membangun kota menjadi lebih baik dan rakyat sejahtera, tetapi membangun tempat hiburan yang sejahtera dan menjamur” ungkap Sehu
“Butuh ketegasan dan kesucian tujuan memimpin kota ini, tidak untuk tujuan memperkaya pribadi, kerabat dan keluarga atau golongan,” jelasnya.
Namun di sisi lain, gagalnya pembangunan oleh seorang pemimpin juga tidak lepas dari lemahnya pengawasan rutin DPRD. Wakil rakyat jangan hanya mampu mengkritik di ujung masa jabatan, tetapi awasi dari awal mula Walikota dilantik,” pungkasnya.

Tokoh Muhammadiyah Bayu Panatagama, mengatakan kultur budaya Kota Cilegon sebagai kota santri harus dikembalikan, karena merupakan suatu perjuangan,” Muhammadiyah yang merupakan organisasi Islam, melihat perkembangan Kota Cilegon di tahun 2013 dan akan mengahadapi tahun 2014, lebih banyak melihat permasalahan kultur budaya, seperti tempat hiburan malam yang menjamur, sesungguhnya harus dilakukan langkah-langkah yang sistematis untuk menghadapi kemasiatan seperti itu.Perkembangan Cilegon akhir-akhir ini, mengembalikan Cilegon sebagai Kota Santri itu memang suatu perjuangan dari pahlawan Cilegon KH Wasyid. Kesantrian di Kota Cilegon sudah pudar, untuk mewujudkanya kembali merupakan suatu tantangan yang luar biasa,” terangnya
H.Ahmad Sudrajat tokoh Majelis Zikir Syekh Jamaludin dan juga tokoh Industri mengatakan, Cilegon sudah ditakdirkan menjadi Kota Santri, dan Industri harus mengikutinya tidak boleh berbenturan,” Cilegon memang sudah ditakdirkan sebagai Kota Santri, dengan berkembangnya industri jangan sampai berbenturan dengan budaya di Kota Cilegon,”ujarnya.

Ditambahkan Ahmad Sudrajat, Kota Cilegon memang harus menjadi Kota Santri, dan Industri harus bisa mensejahterakan masyarakat,” sepanjang Merak,Ciwandan hingga Anyer dapat dilihat pesatnya perkembangan industri, dengan adanya industri seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Cilegon. Saya melihat Tempat Hiburan Malam ini, pertumbuhanya berbarengan dengan industri, mulai dari merak hingga ujung-ujung Cilegon tempat hiburan, warung remang-remang ada. Pemerintah dinilai telat melokalisir warga Korea, itu bisa dilihat dari banyaknya warga Korea dimana-mana ada hingga jam 12 malam bahkan sampai subuh, dan masuk ke kampung-kampung dan perumahan warga, saat tengah malam. Saya setuju jika Cilegon menjadi Kota Santri, saya warga Cilegon dan ditempat kelahiran saya ini, saya tidak mau Kota Cilegon ditata asal-asalan. Saya akan berjuang dengan rekan-rekan,kiai, dan talim bagaimana caranya Cilegon menjadi Kota Santri, karena ini bagian dari sejarah Kota Cilegon, saya yakin semua orang menginginkan menjadi lebih baik dan lebih positif lagi,” Ungkapnya
(Ervan Yuhenda/BBO)